• Jelajahi

    Copyright © MAHAPOS.COM | Berita Terkini Hari Ini
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Posisi Wabup Yulfadri Nurdin dalam Penanganan Covid-19 di Kabupaten Solok

    MAHAPOS
    Senin, 30 Maret 2020, 12.56 WIB Last Updated 2020-03-30T05:56:47Z

    Dimana Wabup Solok Yulfadri Nurdin dalam Penanganan Covid-19?
    Yulfadri: Saya Fokus ke Masyarakat Saja


    Pemkab Solok begitu aktif melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Forkopimda dan jajaran Pemkab Solok terkait penanganan Covid-19. Rakor tersebut digelar di Guest House, sebutan untuk Rumah Dinas Bupati Solok, bukan di Kompleks Perkantoran Pemkab Solok, Arosuka. Lalu, dimana peran Wakil Bupati Solok dalam penanganan Covid-19 dan program-program Pemkab Solok lainnya?

    Menjadi orang nomor dua dalam satu paket pemerintahan, tidak selalu nyaman. Niat, upaya dan program yang diusung, seringkali berseberangan dengan keinginan orang nomor satu di pemerintahan. Hal itu, dirasakan benar oleh Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, selama lebih empat tahun menjadi "pendamping" Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo.

    Sudah rahasia umum, di posisi wakil, senantiasa harus banyak bersabar. "Kemesraan" pemerintahan hanya ada di tahun pertama. Tahun-tahun berikutnya, gap sudah mulai terjadi. Keinginan dan kepentingan masing-masing, beradu dengan upaya menunjukkan identitas masing-masing. Ditambah, bumbu-bumbu dan bisikan dari masing-masing pihak. Semakin meruncing di saat memasuki masa-masa akhir pemerintahan.

    Sejatinya, Gusmal Dt Rajo Lelo dan Yulfadri Nurdin bisa selalu mesra hingga akhir masa jabatan di Februari 2021. Pasalnya, Gusmal tidak bisa lagi maju di Pilkada, karena sudah dua periode menjadi Bupati Solok (2005-2010) dan 2016-2021. Sementara, Yulfadri harusnya bisa menaikkan levelnya di masyarakat dengan membuktikan kapasitasnya layak dan patut menjadi suksesi Gusmal. Namun, semua itu tidak terjadi. Bupati Gusmal mengulang kembali apa yang dilakukannya saat di periode pertama kala berpasangan dengan Desra Ediwan Anantanur. Ketidakmesraannya dengan Gusmal, membuat Desra meminggir dan memilih menjadi pasangan Syamsu Rahim di Pilkada 2010. Hasilnya, SR-Desra mengalahkan Gusmal-Edi Erizon.

    Tapi, Yulfadri Nurdin bukan orang sembarangan di jajaran politik Kabupaten Solok. Putra Aie Dingin, Alahan Panjang tersebut dikenal sebagai politisi yang cerdik dan punya seribu cara. Hal itu, telah dibuktikannya berkali-kali di pentas Pileg. Yulfadri menjadi Anggota DPRD Kabupaten Solok dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 2004-2009 dan 2009-2014. Pada Pileg 2014, Yulfadri naik kelas dan terpilih sebagai Anggota DPRD Sumbar periode 2014-2019. Patut diingat, dari tiga kali keterpilihannya di legislatif, Yulfadri selalu berada di posisi tidak diperhitungkan.

    Pada 2015, Yulfadri Nurdin membuat sejarah dengan mundur dari statusnya sebagai Anggota DPRD Sumbar, dan memutuskan menjadi calon Wakil Bupati Solok, berpasangan dengan Gusmal. Sebuah pertaruhan besar, karena saat itu, undang-undang Pemilu menegaskan jika maju di Pilkada, harus mundur dari legislatif. Bukan lagi cuti, seperti Pilkada-Pilkada sebelumnya. Keputusan Yulfadri kembali terbukti benar.

    Pilkada 2020, nama Yulfadri Nurdin, kembali tidak masuk radar unggulan, meski berstatus incumbent (petahana). Tapi bukan Yulfadri namanya jika tidak memiliki magnet. Namanya memang tidak pernah populer, tapi selalu lolos eleksi karena memiliki pengaruh dan seribu cara untuk sukses di politik. Baginya, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas.

    Viralnya wabah Covid-19 yang menghantam dunia, Indonesia, hingga Kabupaten Solok, membuat nama Yulfadri tak banyak disebut. Bahkan Pemkab Solok yang saat ini dipimpin oleh Gusmal, tidak banyak memberi kesempatan kepada Yulfadri untuk eksis. Baik di berbagai pertemuan, rapat koordinasi, ataupun tampil di media massa.

    Hal ini cukup kontras jika dibandingkan dengan daerah lain, semisal Pemprov Sumbar atau pun daerah terdekat, Kota Solok. Wagub Sumbar Nasrul Abit, terbilang eksis dan bergantian tampil dengan Gubernur Irwan Prayitno. Demikian juga Wakil Walikota Solok, Reinier Dt Mangkuto Alam yang selalu hadir di video conference (Vidcon) atas nama Pemko Solok. Porsi tugas dan kewenangan tampil di muka umum dibagi rata antara pejabat nomor satu dan pejabat nomor dua.

    Rapat koordinasi (Rakor) terbatas Pemkab Solok, ataupun Vidcon dengan Pemprov Sumbar, selalu digelar di Guest House, sebutan untuk Rumah Dinas Bupati Solok, bukan di Kompleks Perkantoran Pemkab Solok. Cukup berbeda dengan Pemko Solok yang menggelarnya di e-Gov Monitoring System, di Gedung Utama Kompleks Balaikota Solok.

    Meski beberapa kali hadir di Vidcon dan Rakor terbatas, Yulfadri tidak diberi porsi yang seharusnya. Atau selayaknya yang dilakukan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno atau pun Walikota Solok Zul Elfian.

    Apa jawaban Yulfadri? Pria yang menjadi kandidat terkuat mendampingi Epyardi Asda di Pilkada Kabupaten Solok 2020 ini, hanya berujar ringan. "Tidak masalah. Saya fokus ke masyarakat saja. Masyarakat lebih membutuhkan pemimpin, bukan pimpinan yang populer". (MP-001)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terkini

    Loading...