• Jelajahi

    Copyright © MAHAPOS.COM | Berita Terkini Hari Ini
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Kawasan Gunung Talang Potensial Sebagai Produsen Beras Termahal Dunia

    MAHAPOS
    Selasa, 04 Februari 2020, 11.42 WIB Last Updated 2020-02-04T04:42:37Z

    Oleh: Agus Taher

    Bareh Solok adalah sebuah ikon tentang enaknya beras dari Sumatera Barat. Di masa lalu keterkenalan beras Solok ini ditopang oleh varietas lokal, seperti Ceredek,  Lumuik, dan Randah Kuning.  Semuanya varietas lokal, yang berumur sekitar 6 bulan,  produktivitasnya rendah, sehingga sejak era intensifikasi padi sawah, posisinya digantikan oleh varietas unggul, diantaranya yang paling enak adalah Cisokan yang dirilis tahun 1995.

    Satu hal yang perlu dicatat, bahwa Cisokan dan varietas lokal rasa super tadi, rasa enaknya akan hilang apabila ditanam bukan di kawasan Gunung Talang, meskipun masih di wilayah kabupaten Solok.

    Persawahan Terbaik Sumbar

    Beras kualitas prima, umumnya dihasilkan pada kawasan dengan drainase bagus, dan mendapat air segar (fresh water) yang kontinyu.  Kawasan ini dicirikan oleh fisiografi sawah berjenjang, serta berada pada ketinggian 500-700 m dpl. 

    Secara fisiko-kimia, karakter kawasan ini mendorong tanaman memiliki asam amino yang banyak mengandung rantai sulfida, sehingga tanaman lebih aromatik, atau lebih harum.

    Sawah berjenjang menyebabkan suplai air segar lebih memungkinkan berlangsung secara kontinu.  Yang terpenting, jatuhan air dari petak yang lebih tinggi ke petak sawah di bawahnya akan meningkatkan kadar oksigen di air irigasi, sehingga suasana di wilayah perakaran tanaman lebih oksidatif. 

    Kondisi ini berefek ganda, yakni serapan hara lebih tinggi, karena adanya tambahan serapan hara melalui mekanisme active absorption.  Disamping itu, suasana oksidatif memicu kualitas beras akan lebih baik.

    Di Sumbar wilayah dengan ciri agroekosistem seperti itu cukup luas, seperti kecamatan Gunung Talang (3.212 ha), Sungai Tarab (4.081 ha), Sungayang (2.582 ha), Lima Kaum (2.479 ha), dan Ampek Angkek (3.816 ha). 

    Meskipun demikian, areal persawahan di sekitar Gunung Talang lebih menonjol dari segi kesuburan lahan, karena berbagai faktor pendukung lainnya, seperti berdekatan dengan Gunung Talang yang sudah beberapa kali meletus, dimana debu vulkanik tersebut mengandung beberapa hara yang dibutuhkan tanaman, seperti Mg, P, Ca, dan S. 

    Dalam catatan sejarah, erupsi gunung Talang ini terjadi pada tahun 1833, 1843, 1845, dan 1883.  Erupsi dengan periode yang lebih pendek terjadi sejak tahun 1963. Berturut-turut gunung Talang meletus pada tahun 1967, 1972, 1980–1981, 2001, 2003, 2005, 2006, dan 2007.

    Disamping itu, sumber air di kawasan gunung Talang ini mencukupi sepanjang tahun dan berasal dari hutan dan danau Talang dan danau Dibawah.  Adanya danau di kaki gunung berapi merupakan anugrah luar biasa dan terbilang langka di dunia.

    Gabungan berbagai faktor pendukung diatas, menyebabkan produktivitas padi sawah di kawasan Gunung Talang lebih tinggi dibandingkan kawasan dataran tinggi lainnya di Sumatera Barat. Rata-rata produktivitas padi di kawasan Gunung Talang, Sungai Tarab, Sungayang, Limau Kaum, dan Ampek Angkek berturut-turut 6.02, 5.89, 5.76, 4.88, dan 4.92 t/ha. 

    Sementara kecukupan ketersediaan air juga menyebabkan indeks pertanaman di kawasan Gunung Talang lebih tinggi dari daerah lainnya. Umumnya, Indek pertanaman di kawasan gunung Talang 2.5, artinya padi ditanam lebih dari 2 kali dalam setahun.

    Basmati Beras Super Mahal

    Sebagai kawasan prima, persawahan di sekitar Gunung Talang dikenal sebagai produsen beras Cisokan, sebagai beras termahal dalam bisnis beras di Sumatera Barat, yaitu dengan harga Rp 15.000,-/kg saat ini.  Artinya lebih mahal dari beras Cisokan yang ditanam dari daerah lain.   

    Meskipun demikian, keunggulan kawasan gunung Talang tersebut makin perlu dikembangkan dalam perspektif bisnis yang lebih besar, yaitu pengembangan beras kelas satu dunia, yaitu varietas Basmati yang bisnis menggiurkannya hanya dinikmati oleh India dan Pakistan. 

    Beras Basmati ini cocok tumbuh pada daerah dengan ketinggian 500 m dpl. Padi varietas Basmati ini berasal dari India, sekarang populer sebagai beras Arab, karena sangat disukai oleh Raja Salman dan saat ini sudah menjadi makanan pokok kedua masyarakat Timur Tengah setelah gandum.

    Saat ini, beras Basmati dijual dengan harga yang bervariasi, seperti merek India Gate Dubar Rp 65.000 per kg, merek Abukass Rp 80.000 sampai Rp 93.000,-, bahkan merek Daawat ditawarkan dengan harga Rp 211.000,-. Basmati, beras Raja beras super mahal. Memanjang 2x lipat setelah ditanak.

    Beras Basmati, yang disebut Raja beras itu memiliki banyak keistimewaan, antara lain memiliki aroma yang sangat harum, yang tidak tertandingi oleh beras lainnya, karena mengandung senyawa 2-acetyl 1-pyrroline  12 kali lebih tinggi dari konsentrasi  beras biasa. Disamping itu, butiran beras lebih panjang dan kecil, warna putih bersih, meskipun ada juga berasnya yang bewarna kecoklatan. 

    Yang paling menonjol adalah nilai keunggulan beras Basmati dari sisi kesehatan, seperti: 1) meminimalisir resiko kanker usus, karena tingginya kandungan seratnya,  2) kadar gula rendah, 3) kenyang lebih lama, disebabkan kadar seratnya lebih tinggi, 4) melancarkan buang air besar, 5) bebas kolesterol, dan 6) mengandung berbagai vitamin yang sangat dibutuhkan tubuh, seperti tiamin dan niacin. Kedua vitamin ini bekerja efektif pada sistem pencernaan, sistem saraf, dan jantung, serta kandungan zat besinya juga lebih tinggi.


    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terkini

    Loading...